Mengal lebih Jauh Darah Wanita

Posted by Unknown on Saturday, February 14, 2015 | 0 comments | Leave a comment...



Mengal lebih Dekat Darah Wanita

“Wajib bagi seorang wanita mempelajari ilmu yang dibutuhkannya yakni ilmu haid, istihdzoh dan nifas, andai kata suaminya alim maka dia wajib mengajarinya, andaikata suaminya tidak alim maka wanita tersebut boleh keluar untuk bertanya pada ulama’ bahkan wajib, dan haram bagi seorang suami menghalanginya kecuali dia mau bertanya dan memberi keterangan kepada isterinya.”



و الإستحاضة : الدم الخارج في غير أيام الحيض و النفاس لا على سبيل الصحة من عرق في أدنى الرحم

(إعانة المبتدين ببعض فروع الدين)
Istihadloh ialah darah yg keluar di luar hari2 haid dan nifas, tidak di jalan sehat (suatu penyakit). Yg keluar dari otot dibawah Rahim.
(Lihat: I'anah al-Mubtadin bi Ba'dli Furu'i ad-Din hal 50)

Setelah kita mengetahui apa itu istihadloh, alangkah baiknya kita mengetahui warna2 darah yg keluar dari farji seorang wanita.
دماء الإستحاضة خمسة أسود و أحمر و أشقر و أصفر و أكدر. فالأسود قوي و الأحمر ضعيف بالنسبة لأسود قوي بالنسبة للأشقر و الأشقر أقوى من الأصفر و الأصفر أقوى من الأكدر.
(التقريرات السديدة ص 167)
Darah Istihadloh ada 5.

  1.   Merah kehitaman (Coklat Tua) 
  2. Merah
  3. Merah kekuningan
  4. Kuning
  5. Kuning keputih2an (Keruh)

Darah Merah kehitaman (Coklat Tua) adalah darah kuat. Darah Merah itu lemah bila di bandingkan pada darah Merah kehitaman (Coklat Tua), dan kuat bila dibandingkan darah Merah kekuningan. Darah Merah kekuningan lebih kuat dari darah Kuning. Darah Kuning lebih kuat dari darah Kuning keputih2an (Keruh).
(Lihat: Taqriroh as-Sadidah hal 167)

فالمستحاضات أربع.
الأولى : المميزة, و هي التي تعرف صفة الدم.
الثانية : المعتدة, و هي التي تحفظ عادتها و ليست بمميزة.
الثالثة : المبتدأة, و هي التي حاضت أول مرة فاستحيضت و استمر بها الدم.
الرابعة : المتحيرة, و هي الت نسيت عادتها و لا تمييز لها.
(الخلاصة المختصر و نقاوة المعتصر لحجة الإسلام و بركة الأنام الإمام أبي حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي ص 85)
Wanita istihadloh/Mustahadloh ada 4.
Pertama : Mumayyizah, yaitu wanita yang mengetahui Sifat2 darah.
Kedua : Mu'tadah, yaitu wanita yg mengetahui adat/kebiasaannya/sumah pernah haid dan sudah pernah suci, tp tidak Mumayyizah (tidak mengetahui Sifat2 darah)
Ketiga : Mubtadi_ah, yaitu wanita yg Haid untuk pertama kali kemudian istihadloh dan darah tetap padanya.
Keempat : Mutahayiroh, yaitu wanita yg lupa adat/kebiasaannya (dalam haid) juga tidak Mumayyizah (tidak mengetahui Sifat2 darah).
(Lihat : al-Khulasoh al-Mukhtashor wa Naqowah al-Mu'tashor karangan Hujjatul Islam dan Barakatul Anam Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali hal 85)

Dari ke 4 macam tersebut itulah akan ada 7 bentuk/contoh Musthahadloh.
1. MUBTADI_AH MUMAYYIZAH
Pengertiannya spti yg telah kami utarakan diatas yaitu Wanita yg baru pertama keluar darah dan tahu/dapat membedakan sifat2/warna darah.

HUKUMNYA : Darah yg kuat (lihat perbedaan warna) itu haid, darah yg lbih lemah itu istihadloh.
Dengan syarat, (Syarat Tamyiz)
A. Darah kuat tidak kurang dari batas mimimal haid (lbih tau pas 24 jam)
B. Darah kuat tidak melebihi dari batas maksimal haid (15 hari, 15 malam)
C. Darah lemah tidak kurang dari batas minimal suci (15 hari, 15 malam)
D. Darah lemah harus terus-menerus/menyambung (tidak terputus)
Apabila salah 1 syarat di atas tidak ada, maka dia tidak bisa di golongkan pada Mumayyizah.

MISAL : Ada wanita yg berkata, Aku mengeluarkan darah untuk pertama kali selama 20 hari berturut-turut, 3 hari darah Merah kehitaman (Darah Kuat) dan 17 hari darah Merah (Darah lemah). Maka bisa qta hukumi, bahwa Haidnya 3 hari, dan istihadlohnya 17 hari.
Atau,
Ada wanita mengeluarkan,
Darah hitam........... 5 hari
Darah kuning.........17 hari
Darah hitam lagi.......6 hari
------------------------
Maka haidnya ..... 5 hari
Istihadloh ............... 17 hari
Haid lagi................... 6 hari

2. MUBTADI_AH GHOIRU MUMAYYIZAH
Wanita keluar darah pertama kali tapi tidak dapat membedakan sifat2 darah.
Atau juga Mubtadi_ah Mumayyizah tp kurang salah satu sarat tamyiz nya.

HUKUMNYA : Apabila dia tahu/ingat waktu pertama/mulainya keluar darah, maka Haidnya 1 hari 1 malam (24 jam), dan sucinya hari2 selanjutnya. Namun jika dia tidak tahu/ingat waktunya maka dia termasuk Mutahayiroh.

MISAL : Wanita keluar darah selama 17 hari dgn warna dan sifat yg sama. Maka dapat di hukumi haidnya 1 hari 1 malam, selebihnya istihadloh.
Atau,
Wanita mengeluarkan darah sbgai berikut :
Darah merah.......... 20 hari
Darah kuning.......... 6 hari
------------------------
karena darah merah (baca ; kuat) melebihi batas maksimal haid (15 hari 15 malam)
maka dihukumi haid nya 1 hari pertama dan istihadloh 25 hari selanjutnya.

3. MU'TADAH MUMAYYIZAH
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci serta dapat membedakan warna/sifat darah.

HUKUMNYA : Dihukumi dengan hukum Tamyiz (darah kuat Haid, darah lemah istihadloh.) meskipun bertentangan dgn kebiasaan haidnya.

MISAL : Wanita mempunyai kebiasaan mengeluarkan darah selama 5 hari tiap awal bulan (1 pai 5). Dan di bulan lain dia keluar darah selama 25 hari
Darah Merah kehitaman.10 hari
Darah Merah...................15 hari
-------------------------
maha haidnya .......... 10 hari (karena darah kuat)
istihadlah ................. 15 hari
Atau,
Wanita sudah pernah haid dan suci mengeluarkan darah sbgai berikut :
Darah Kuning............ 12 hari
Darah Merah.............. 7 hari
------------------------
Maka haidnya ...... 7 hari
Istihadlohnya ...... 12 hari
Nb : Pada Mu'tadah Mumayyizah penentuan haid dgn Memandang darah Kuat, tidak memandang adat haid bulan sebelumnya.

4. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA QODRON WA WAQTAN
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat adat/kebiasaannya baik kira2 (lama)nya dan waktu (mulai) nya.

HUKUMNYA : Dikembalikan pada adat dan waktunya, maksutnya di hukumi dgn bagaimana adat/kebiasaan di bulan sebelumnya.

MISAL : Wanita biasa haid selama 7 hari disetiap awal bulan.
Pada bulan ini dia mengeluarkan darah selama 17 hari. Dia juga tidak bisa membedakan warna darah, atau darahnya keluar dgn 1 warna.
maka dapat kita hukumi, sesungguhnya HAID nya 7 hari karena di samakan dgn keaiasaan bulan2 sebelumnya, dan 10 hari yang terakhir adalah istihadloh.

5. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH NASIYATUN LI ADATIHA QODRON WA WAQTAN (MUTAHAYIROH)
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan LUPA adat/kebiasaannya baik kira2 (lama)nya dan waktu (mulai) nya.

MISAL : Wanita yg mengeluarkan darah selama 20 hari dan darahnya tidak bisa di bedakan artinya darahnya hanya 1 warna, atau darah dapat di bedakan tp tidak memenuhi sarat2 TAMYIZ, serta dia lupa kira2 haidnya jg waktunya, entah di awal, tengah, atau ahir bulan.

HUKUMNYA : Baginya hukum Haid dalam masalah yang di haramkan (Bersenang2 di antara pusar dan lutut, membaca al-Qur'an selain solat, memegang dan membawa mushaf, diam di masjid serta lewat di masjid apabila takut menetes darahnya). Dan hukum SUCI dalam masalah Kewajiban (Solat, puasa, thowaf, thalaq, i'tikaf, dan wajib mandi setiap 1 perkara Fardlu)

NB: Tata cara puasanya ialah, Dia puasa bulan romadlon sebulan penuh, di tambah lagi puasa 1 bulan penuh. Maka dia telah puasa 28 hari secara yakin SUCI. Masih kurang 2 hari (1 bulan = 30 hari) maka cara puasa yg kurang 2 hari ialah, berpuasa 3 hari berturut-turut, tidak puasa 12 hari berturut-turut, kemudian berpuasa lagi 3 hari berturut-turut.
Jadilah dia puasa 30 hari yg YAKIN SUCI.

6. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA QODRON LA WAQTAN
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat adat/kebiasaannya dalam kira2 (lama)nya tidak dalam waktu (mulai) nya.

MISAL : Wanita berkata, Aku biasanya haid selama 5 hari di 10 hari pertama dan aku tidak tahu mulainya. Tapi aku tahu dan yakin sesungguhnya hari pertama aku Suci. Dan bulan ini aku keluar darah 1 bulan penuh.

HUKUMNYA : Dihukumi, Hari ke 6 Haid secara Yakin, dan hari pertama Suci secara yakin,seperti halnya 20 hari terahir.
Adapun hari ke 2 sampai ke 5 ada kemungkinan bisa Haid bisa juga Suci. Begitu juga hari ke 7 sampai 10 ada kemungkinan seperti itu juga (bisa Haid bisa juga Suci). Karena kondisi seperti (ada kemungkinan Suci dan juga Haid) ini, dia di hukumi seperti halnya MUTAHAYIROH.

7. MU'TADAH GHOIRU MUMAYYIZAH DZAKIROTUN LI ADATIHA WAQTAN LA QODRON.
Wanita yg sudah pernah haid dan sudah pernah suci yang tidak MUMAYYIZ, dan ingat waktu (mulai) nya tidak dengan kira2/lamanya.

MISAL : Seperti ada wanita yg berkata, Aku biasa Haid di awal bulan tapi tidak tahu berapa lamanya, dan di bulan ini aku keluar darah 1 bulan penuh.

HUKUMNYA : Awal bulan (tgl 1) yakin Haid, setengah di hari yg kedua Yakin Suci. Dan diantara hal itu (2 sampai 15) ada kemungkinan Haid dan juga Suci. Pada bagian yang YAKIN (baik yakin suci atau yakin Haid) itu menggunakan hukumnya sendiri2 (Haid pakai hukum Haid, Suci pakai hukum Suci). Dan hari yg ada kemungkinan Haid juga Suci pakai Hukum MUTAHAYIROH.

(Lihat : at-Taqriroh as-Sadidah hal 167 - 170,
Hasyiyah Bajuri hal 112 - 115,
Mughni Muhtaj juz 1 hal 111 - 120,
Hasyiyah al-Bujairimi ala al-Iqna' juz 1 hal 350)

PENUTUP
يجب لنحو مستحاضة الوضوع لكل فرض و كذا غسل الفرج و إبدال القطنة التي بفمه و العصابة و إن لم تنتقل عن موضعها و إن لم يظهر الدم مثلا من جوانبها (إعانة الطالبين)
Wajib bagi wanita istihadloh, wudlu tiap ingin solat Fardlu, membasuh farji, dan (Maaf) menyumpal bibir kemaluan dgn Kapas/selainnya. Meskipun darah tak terlihat dari kanan kirinya.
(Lihat : I'anah at-Tholibin)
NB: Kecuali bila dia merasa sakit dgn hal itu atau sedang puasa maka tidak boleh (maaf) menyumpal farjinya karena hal ini dapat membatalkan puasa.
وطء المستحاضة جاءىز عند أبي حنيفة و الشافعي و مالك كما تصوم و تصلي و قال أحمد لا يجوز وطء المستحاضة في الفرج إلا أن يخاف زوجوها العنت و هو الزنا فيجوز في أصح الروايتين.
(رحمة الأمة في اختلاف الأءىمة)

Menjima' atau menyetubuhi wanita yg istihadloh itu boleh menurut Imam Abi Hanifah, Syafi', dan Malik seperti halnya puasa dan solat. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal tidak boleh.
Dan paling shohihnya 2 riwayat itu boleh.
(Lihat: Rohmah al-Ummah fi Ikhtilaf al-A_immah)
{تنبيه مهم} يجب على المرأة تعلم ما تحتاج إليه من أحكام الحيض و الإستحاضة و النفاس. فإن كان زوجها عالما لزمه تعليمها و إلا فلها الخروج لسوأل العلماء بل يجب و يحرم عليه منعها إلا أن يسأل هو و يخبرها فتستغني بذلك. و ليس لها الخروج إلى مجلس ذكر أو تعلم خير إلا برضاه.
(مغني المحتاج الجزء 1 ص 120)
"Peringatan Penting" : Wajib bagi seorang perempuan belajar sesuatu yg dia butuhkan dari Hukum2 haid, istihadloh, dan nifas. Apabila suaminya alim/mengetahui maka wajib bagi sang suami untuk mengajarinya.
Dan bila sang suami tidak mengerti, maka boleh baginya keluar untuk bertanya pada ulama' bahkan wajib. Dan suami haram melarangnya, kecuali dia sendiri yg bertanya lalu memberi tahu istrinya sehingga dia tak perlu keluar rumah. Tidak boleh bagi istri keluar ke Majlis dzikir atau tempat belajar kebaikan kecuali dgn ridlo dari suami.
(Lihat: Mughni Muhtaj juz 1 hal 120)

Hukum Membaca Al Qur'an Saat Haid

Posted by Brothers on Wednesday, November 6, 2013 | 0 comments | Leave a comment...

Hukum wanita haidh membaca al-Qur'an,
berikut uraian selengkapnya dari kitab Hasyiyah al-Bujairimi 'ala al-Iqna' karya Sulaiman bin Umar bin Muhammad al-Bujairimi:
( وَ ) الثَّالِثُ ( قِرَاءَةُ ) شَيْءٍ مِنْ ( الْقُرْآنِ ) بِاللَّفْظِ أَوْ بِالْإِشَارَةِ مِنْ الْأَخْرَسِ كَمَا قَالَ الْقَاضِي فِي فَتَاوِيهِ ، فَإِنَّهَا مُنَزَّلَةٌ مَنْزِلَةَ النُّطْقِ هُنَا وَلَوْ بَعْضَ آيَةٍ لِلْإِخْلَالِ بِالتَّعْظِيمِ ، سَوَاءٌ أَقَصَدَ مَعَ ذَلِكَ غَيْرَهَا أَمْ لَا لِحَدِيثِ التِّرْمِذِيِّ وَغَيْرِهِ : { لَا يَقْرَأْ الْجُنُبُ وَلَا الْحَائِضُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ }

الشَّرْحُ

قَوْلُهُ : ( وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ) وَعَنْ مَالِكٍ : يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ ، وَعَنْ الطَّحَاوِيِّ يُبَاحُ لَهَا مَا دُونَ الْآيَةِ كَمَا نَقَلَهُ فِي شَرْحِ الْكَنْزِ مِنْ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ 
"Keharaman sebab haid yang ketiga adalah membaca sesuatu dari al-Qur’an, dengan diucapkan atau dengan isyarah dari orang bisu, seperti yang dikatakan Qadhi Husein dalam Fatawinya. Mengingat konteks isyarah diletakkan pada konteksnya hukum berucap pada permasalahan ini, meskipun yang dibaca hanyalah sebagian ayat saja dikarenakan hal itu menunjukkan pada unsur penghinaan. Baik bacaan itu diniati bersama dengan niat yang lain ataupun tidak, berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi dan lainnya, “Orang yang sedang junub dan orang yang haid tidak diperbolehkan membaca sesuatu dari al-Qur’an.
Komentar pensyarah: [Membaca al-Qur’an] dari Imam Malik dijelaskan bahwa diperbolehkan bagi perempuan haid membaca al-Qur’an. Dan dari Ath-Thahawi diterangkan bahwa diperbolehkan bagi dia untuk membaca al-Qur’an namun kurang dari satu ayat, seperti yang dia kutipkan dalam Syarah Al-Kanzu dari kitabnya mazhab Hanafi." (Hasyiyah Bujairimi, 3/259-261)




تَنْبِيهٌ : يَحِلُّ لِمَنْ بِهِ حَدَثٌ أَكْبَرُ أَذْكَارُ الْقُرْآنِ وَغَيْرُهَا كَمَوَاعِظِهِ وَأَخْبَارِهِ وَأَحْكَامِهِ لَا بِقَصْدِ الْقُرْآنِ كَقَوْلِهِ عِنْدَ الرُّكُوبِ : { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ } أَيْ مُطِيقِينَ ، وَعِنْدَ الْمُصِيبَةِ : { إنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ } وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ فَإِنْ قَصَدَ الْقُرْآنَ وَحْدَهُ أَوْ مَعَ الذِّكْرِ حُرِّمَ ، وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا .

كَمَا نَبَّهَ عَلَيْهِ النَّوَوِيُّ فِي دَقَائِقِهِ لِعَدَمِ الْإِخْلَالِ بِحُرْمَتِهِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَّا بِالْقَصْدِ قَالَهُ النَّوَوِيُّ وَغَيْرُهُ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ جَارٍ فِيمَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ كَالْآيَتَيْنِ الْمُتَقَدِّمَتَيْنِ وَالْبَسْمَلَةِ وَالْحَمْدَلَةِ ، وَفِيمَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ إلَّا فِيهِ كَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَآيَةِ الْكُرْسِيِّ ، وَهُوَ كَذَلِكَ ، وَإِنْ قَالَ الزَّرْكَشِيّ : لَا شَكَّ فِي تَحْرِيمِ مَا لَا يُوجَدُ نَظْمُهُ فِي غَيْرِ الْقُرْآنِ ، وَتَبِعَهُ عَلَى ذَلِكَ بَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ كَمَا شَمِلَ ذَلِكَ قَوْلَ الرَّوْضَةِ ، أَمَّا إذَا قَرَأَ شَيْئًا مِنْهُ لَا عَلَى قَصْدِ الْقُرْآنِ فَيَجُوزُ .

الشَّرْحُ

قَوْلُهُ : ( تَنْبِيهٌ إلَخْ ) هَذَا التَّنْبِيهُ بِمَنْزِلَةِ قَوْلِهِ مَحَلُّ حُرْمَةِ الْقِرَاءَةِ إذَا كَانَتْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ أَوْ بِقَصْدِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ ، و َإِلَّا فَلَا حُرْمَة .

قَوْلُهُ : ( يَحِلُّ إلَخْ ) كَلَامُهُ فِي الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ فَدُخُولُ غَيْرِهِمَا مَعَهُمَا اسْتِطْرَادِيٌّ تَأَمَّلْ ق ل .

قَوْلُهُ : ( كَمَوَاعِظِهِ ) أَيْ مَا فِيهِ تَرْغِيبٌ أَوْ تَرْهِيبٌ .

قَوْلُهُ : ( وَأَخْبَارِهِ ) أَيْ عَنْ الْأُمَمِ السَّابِقَةِ .

قَوْلُهُ : ( وَأَحْكَامِهِ ) أَيْ مَا تَعَلَّقَ بِفِعْلِ الْمُكَلَّف .

قَوْلُهُ : ( وَمَا جَرَى بِهِ لِسَانُهُ بِلَا قَصْدٍ ) بِأَنْ سَبَقَ لِسَانُهُ إلَيْهِ .

قَوْلُهُ : ( وَإِنْ أَطْلَقَ فَلَا ) كَمَا لَا يَحْرُمُ إذَا قَصَدَ الذِّكْرَ فَقَطْ ، فَالصُّوَرُ أَرْبَعَةٌ يَحِلُّ فِي ثِنْتَيْنِ ، وَيَحْرُمُ فِي ثِنْتَيْنِ وَأَمَّا لَوْ قَصَدَ وَاحِدًا لَا بِعَيْنِهِ فَفِيهِ خِلَافٌ ، وَالْمُعْتَمَدُ الْحُرْمَةُ ؛ لِأَنَّ الْوَاحِدَ الدَّائِرَ صَادِقٌ بِالْقُرْآنِ فَيَحْرُمُ لِصِدْقِهِ بِهِ . قَوْلُهُ : ( لَا يَكُونُ قُرْآنًا إلَخْ ) أَيْ لَا يَكُونُ قُرْآنًا تَحْرُمُ قِرَاءَتُهُ عِنْدَ وُجُودِ الصَّارِفِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَإِلَّا فَهُوَ قُرْآنٌ مُطْلَقًا ، أَوْ الْمَعْنَى لَا يُعْطَى حُكْمَ الْقُرْآنِ إلَّا بِالْقَصْدِ ، وَمَحَلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِي صَلَاةٍ كَأَنْ أَجْنَبَ وَفَقَدَ الطَّهُورَيْنِ وَصَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ بِلَا طُهْرٍ ، وَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ ، فَلَا يُشْتَرَطُ قَصْدُ الْقُرْآنِ ، بَلْ يَكُونُ قُرْآنًا عِنْدَ الْإِطْلَاقِ لِوُجُوبِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ فَلَا صَارِفَ فَاحْفَظْهُ وَاحْذَرْ خِلَافَهُ كَمَا ذَكَرَهُ ابْنُ شَرَفٍ عَلَى التَّحْرِيرِ .

AL Ikhlash - Diperbolehkan bagi orang yang mempunyai hadats besar untuk membaca dzikir al-Qur’an dan yang lainnya, seperti mauizhahnya, cerita, dan hukum yang ada di dalam al-Qur’an, dengan tidak diniatkan pada al-Qur’annya. Seperti perkataanya ketika naik kendaraan, (سبحان الذي سخر لنا هذا و ما كنا له مقرنين) dan ketika mendapat musibah dia mengucapkan (إنا لله و إنا اليه راجعون). Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya. Namun jika dia memaksudkan al-Qur’an saja atau memaksudkan al-Qur’an beserta dzikirnya, maka diharamkan. Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan, sesuai dengan peringatan an-Nawawi dalam kitab Daqaiq, sebab tidak ada unsur penghinaan pada kemuliaan al-Qur'an di sini. Memandang bahwasanya al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali ketika dengan wujudnya niat.
Secara zahir pendapat tersebut berlaku baik pada ayat yang bisa ditemukan susunan kalimatnya di luar al-Qur'an semisal dua ayat di atas, juga basmalah dan al-fatihah. Serta pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an semisal surat al-Ikhlas dan ayat kursi. Benarlah demikian, meski az-Zarkasyi berpendapat tidak diragukannya keharaman pada ayat yang tidak akan ditemukan susunan kalimatnya selain di al-Qur'an. Pendapat az-Zarkasyi ini dianut oleh sebagian ulama mutaakhirin.
Keterangan an-Nawawi tentang kemutlakan tersebut juga terkandung dalam kitab ar-Raudhah. Sedangkan ketika membaca al-Qur'an itu tidak diniatkan pada membaca al-Qur'annya maka diperbolehkan.
Komentar pensyarah:
[Tanbih dst.] Tanbih ini menempati perkataan mushannif, “Tempat keharaman membaca al-Qur’an adalah ketika dalam pembacaan itu dengan maksud al-Qur’an atau dengan maksud al-Qur’an dan dzikir. Jika tidak memaksudkan dengan itu semua maka tidak diharamkan."
[Diperbolehkan dst.] Pembahasan penulis tentang wanita haidh dan nifas, namun bisa dikonfirmasikan juga pembahasan selain keduanya. Cermatilah. (al-Qulyubi)
[Seperti mauizhah] Yakni perkara tentang anjuran dan ancaman.
[Cerita] Yakni dari kisah umat terdahulu.
[Dan hukum yang ada di dalam al-Qur'an] Yakni perkara yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.
[Serta pada apa yang tanpa dikehendaki terucap oleh lisannya] Dengan kelepasan bicara.
[Kemudian jika dia memutlakkannya maka tidak diharamkan] Sebagaimana tidak pula diharamkan ketika diniatkan pada dzikirnya saja. Sehingga bisa disimpulkan ada empat situasi pembacaan al-Qur'an di sini. Dua diperbolehkan, dan dua lainnya diharamkan.
Sedangkan ketika dia meniatkan pada salah satunya namun tanpa dijelaskan yang mana maka hukumnya khilaf. Menurut qaul Mu'tamad dihukumi haram. Sebab unsur salah satunya bisa dimungkinkan niat pada al-Qur'annya sehingga diharamkan memandang adanya kemungkinan tersebut.  [Al-Qur'an tidak akan diberlakukan hukum al-Qur'an dst.] Yakni ketika muncul qarinah pembeda maka tidak dianggap sebagai al-Qur'an yang haram dibaca kecuali dengan wujudnya niat. Atau bisa juga diartikan tidak diberlakukan hukum al-Qur'an kecuali dengan wujudnya niat. Konteks ini mengesampingkan pada kasus shalat, semisal pada orang junub yang tidak bisa bersuci dengan wudhu dan tayammum, lantas dia shalat li hurmatil waqti, membaca al-Fatihah, maka tidak berlaku persyaratan niat membaca al-Qur'an. Bahkan tetap dianggap sebagai hukum bacaan al-Qur'an ketika dimutlakkan sebab tidak ada qarinah pembeda di sini. Camkanlah dan hati-hati terhadap kesalahpahaman tentang hal itu, sebagaimana dituturkan oleh an-Nawawi dalam kitab at-Tahrir." (Hasyiyah al-Bujairimi, 1/259-264)


Elaborasi tentang khilafiyah Imam Malik dituturkan dalam kitab al-Mausu'ah:
وَذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ إِلَى أَنَّ الْحَائِضَ يَجُوزُ لَهَا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فِي حَال اسْتِرْسَال الدَّمِ مُطْلَقًا ، كَانَتْ جُنُبًا أَمْ لاَ ، خَافَتِ النِّسْيَانَ أَمْ لاَ . وَأَمَّا إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا ، فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ حَتَّى تَغْتَسِل جُنُبًا كَانَتْ أَمْ لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَخَافَ النِّسْيَانَ .
هَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ عِنْدَهُمْ ، لأَنَّهَا قَادِرَةٌ عَلَى التَّطَهُّرِ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ ، وَهُنَاكَ قَوْلٌ ضَعِيفٌ هُوَ أَنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا انْقَطَعَ حَيْضُهَا جَازَ لَهَا الْقِرَاءَةُ إِنْ لَمْ تَكُنْ جُنُبًا قَبْل الْحَيْضِ . فَإِنْ كَانَتْ جَنْبًا قَبْلَهُ فَلاَ تَجُوزُ لَهَا الْقِرَاءَةُ .

"Kalangan malikiyah berpendapat bahwa wanita haidh diperbolehkan membaca al-Qur'an di masa sedang keluarnya darah haidh secara mutlak, baik disertai junub maupun tidak, entah karena khawatir lupa ataupun tidak. Sedangkan di masa darah haidh sedang berhenti maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an sampai dia mandi bersuci, baik kondisinya disertai junub maupun tidak, kecuali bila khawatir lupa (maka boleh membaca, pen).
Pendapat di atas adalah qaul mu'tamad, sebab seorang wanita dipandang mampu bersuci dalam kondisi darah sedang berhenti tersebut. Namun dalam hal ini ada qaul dha'if yang berpendapat seorang wanita ketika darahnya sedang berhenti tetap diperbolehkan membaca al-Qur'an asalkan kondisinya tidak disertai junub sebelum haidh. Ketika sebelum haidh telah disertai junub maka tidak diperbolehkan membaca al-Qur'an (sampai dia mandi bersuci, pen)" (al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwatiyyah, 18/322)

Kesimpulan:
Dalam mazhab syafi'iyah terdapat tujuh pembahasan yang berkaitan dengan hukum wanita haidh membaca al-Qur'an:
- Bila membaca al-Qur'an diniati untuk membaca al-Qur'annya maka haram.
- Bila membaca al-Qur'an diniati untuk membaca al-Qur'annya besertaan niat lainnya maka juga dihukumi haram.
- Bila membaca al-Qur'an diniati selain untuk membaca al-Qur'an seperti untuk menjaga hafalan, membaca zikirnya, kisah-kisah, mauizah, hukum-hukum, maka diperbolehkan.
- Bila membaca al-Qur'an karena kelepasan bicara maka diperbolehkan.
- Bila membaca al-Qur'an diniati secara mutlak, yakni sekedar ingin membaca tanpa niat tertentu maka diperbolehkan.
- Bila membaca al-Qur'an diniati secara mutlak atau niat selain al-Qur'an, namun yang dibaca adalah susunan kalimat khas al-Qur'an atau satu surat panjang atau keseluruhan al-Qur'an maka khilaf. Menurut an-Nawawi, ar-Ramli Kabir, dan Ibnu Hajar diperbolehkan, sedangkan bagi az-Zarkasyi dan as-Suyuthi diharamkan. - Bila membaca al-Qur'an diniatkan pada salah satunya tanpa dijelaskan yang mana maka khilaf. Menurut qaul mu'tamad diharamkan sebab adanya kemungkinan niat pada bacaan al-Qur'an.

Sedangkan dalam mazhab malikiyah boleh bagi wanita haidh membaca al-Qur'an. Lebih jelasnya tentang hal ini terdapat dua pembahasan:
- Boleh secara mutlak, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang merembes keluar. - Tidak diperbolehkan sebelum mandi hadats, yakni ketika membacanya dalam kondisi darah haidh sedang mampet. Kecuali bila khawatir lupa, atau kecuali dengan menengok pada qaul dha'if yang memperbolehkannya asalkan haidhnya tidak disertai junub. piss-ktb
  Wallahu subhanahu wata'ala a'lam.
alikhlash

Most Popular

  • Sering kita temui dikalangan masyarakat yang melaksanakan shlalat takhiyatul masjid di mushola, dan Itikafdi mushola mereka beranggapan Ma...
  • Pembacaan Marhaban Al-Barzanji merupakan kegiatan runitas yang dilaksanakan setiap minggu sekali dilaksanakan pada Minggu malam Ba'da ...
  • Memakai Celana Cingkrang Asal mula penggunaan celana cingkrang seperti yang dipakai oleh sebagian komunitas muslim adalah untuk menghinda...

Islamic Search Engine

Recent News